Om swasti astu “Om namo narayanaya”

1. Pendahuluan

Sistem tata letak sebuah candi sangatlah rumit namun tetap teratur. Begitu juga dengan Candi Sukuh, sistem keteraturan yang dipegang teguh ini berhubungan dengan kepercayaan tentang pencapaian Moksa. Nilai-nilai religi tersebut dimanifestasikan dalam candi. Seakan hendak meniru perjalanan ritual manusia menuju kesempurnaan, candi adalah hasil imajinasi kreatif tentang nirwana dan memang, ketika kabut turun, undak-undakan candi itu pun seperti menjadi sebuah negeri di awan.

Prinsip keteraturan memang menjadi dasar sejak titik awal, yaitu pemilihan lokasi. Ketinggian dan ketersediaan air menjadi salah satu syarat utama pembangunan candi penyembahan. Keberadaan candi-candi itu di tempat yang tinggi, didasarkan pada kepercayaan pra-Hindu yang menganggap roh-roh leluhur tinggal di gunung.

Sementara kedekatan dengan sumber air juga merupakan keharusan karena air adalah salah satu elemen terpenting dari sebuah upacara. Kebanyakan candi menghadap ke timur dan barat juga berkaitan dengan perjalanan hidup yang dimulai dari kelahiran (Mijil) dan kematian (Pucung). Candi merupakan sebuah bangunan yang sangat struktural, hal ini dapat kita lihat dari keberadaan sumbunya yang berhubungan dengan kosmik. Pemilihan tempat juga mempertimbangkan gejala alam, seperti suhu, nuansa pagi dan malam, kabut dan kawah gunung berapi yang membawa manusia ke sebuah penjelmaan dari kamoksan itu sendiri. Candi Sukuh terletak di ketinggian 970 meter di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Jalan menanjak dan berkelok-kelok harus ditempuh sebelum tiba di candi ini. Efek matahari terbit dan tenggelam pada candi yang terbentang searah timur-barat ini, ditambah dengan latar tubuh gunung yang menjulang di belakangnya, menciptakan suasana yang penuh dengan kesakralan.

Undakan yang merupakan bangunan utama candi membawa kita naik ke ”atas”. Itulah lambang langit sebagai dunia atas yang dihuni zat spiritual yang dipahami sebagai tujuan hidup manusia (sangkan paran). Selain tata ruangnya, masing-masing ornamen pada tiap candi dengan terperinci merujuk pada makna tertentu. Setiap simbol, sekecil apa pun, adalah bagian dari sebuah narasi besar yang dirancang sejak awal untuk menjadi ”jiwa” candi tersebut. Candi Sukuh, banyak memiliki beragam hiasan yang menggambarkan kesuburan manusia. Hadirnya lingga dan yoni, rahim, hingga alat kelamin dibuat sebagai ornamen yang merujuk pada proses hidup manusia.

Tulisan ini akan mengkaji dan selanjutnya berusaha untuk mengupas tuntas keberadaan candi Sukuh sebagai salah satu tinggalan klasik pada masa pemerintahan Majapahit yang kini masih tetap menunjukkan keagungannya pada setiap kerlingan mata yang mencoba menawan keanggunannya

2. Gambaran Umum Situs

Candi Sukuh terletak di lereng barat Gunung Lawu pada ketinggian kurang dari 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat, tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Candi Sukuh berbentuk bangunan teras berundak dengan jumlah tiga teras, dan terasnya berupa susunan teras halaman. Pintu masuk candi berupa gapura, terletak di sebelah barat berbentuk trapesium dan merupakan gapura terlengkap dibanding gapura lain. Pada pipi gapura terdapat beberapa relief yang diduga sebagai sengkalan memet, yaitu : (1) di atas pintu masuk terdapat kala; (2) dinding bagian belakang terdapat kala yang terletak di dalam relung; (3) pipi gapura sebelah utara terdapat relief yang melukiskan raksasa sedang menelan orang, diperkirakan sebagai sengkalan memet yang berbunyi gapura buta mangan wong = 1359 Saka; (4) selain itu terdapat juga relief yang melukiskan sepasang burung yang hinggap di atas sebatang pohon, di bawahnya terdapat anjing; (5) pipi gapura sebelah selatan terdapat relief yang melukiskan raksasa sedang menggigit ular, diperkirakan berbunyi gapura buta anahut buntut = 1359 Saka; (6) dinding gapura sebelah utara dan selatan terdapat relief yang melukiskan seekor garuda dengan sayap terbuka sedang mencengkeram dua ekor ular naga, diperkirakan sebagai cerita Garudeya; (7) pada lantai gapura terdapat relief phalus dan vagina yang dilukiskan sangat naturalistik (Saringendyanti, 2008: 6).

Menurut dugaan para ahli, Candi Sukuh dibangun untuk tujuan pengruwatan, yaitu menangkal atau melepaskan kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang akibat ciri-ciri tertentu yang dimilikinya. Dugaan tersebut didasarkan pada relief-relief yang memuat cerita-cerita pengruwatan, seperti Sudamala dan Garudheya, dan pada arca kura-kura dan garuda yang terdapat di Candi Sukuh.

Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah sangkala dalam bahasa Jawa gapura buta abara wong (Gapura sang raksasa memangsa manusia). Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa gajah wiku anahut buntut (Gajah pendeta menggigit ekor). Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama. Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika kita ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi dari pada batu berundak sebelumnya harus dilalui, selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian, sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.

Di ruang dalam gapura, terhampar di lantai, terdapat pahatan yang menggambarkan phallus dan vagina dalam bentuk yang nyata yang hampir bersentuhan satu sama lain. Pahatan tersebut merupakan penggambaran bersatunya lingga (kelamin perempuan) dan yoni (kelamin laki-laki) yang merupakan lambang kesuburan. Saat ini sekeliling pahatan tersebut diberi pagar, sehingga gapura tersebut sulit untuk dilalui. Untuk naik ke teras pertama, umumnya pengunjung meggunakan tangga di sisi gapura. Ada keyakinan bahwa pahatan tersebut berfungsi sebagai ‘suwuk’ (mantra atau obat) untuk ‘ngruwat’ (menyembuhkan atau menghilangkan) segala kotoran yang melekat di hati. Itulah sebabnya relief tersebut dipahatkan di lantai pintu masuk, sehingga orang yang masuk ketempat suci ini akan melangkahinya. Dengan demikian segala kekotoran yang melekat di tubuhnya akan sirna,

3. Sejarah Pendirian Candi Sukuh

Raja Kertanegara adalah seorang Hindu dan Budhamistik dan Tantrik, yang dipuji karena penyatuan politik Kekaisaran Majapahit berdasarkan kultus Tantrik sebagai agama negara. Pada 1263 Masehi ke Hevraja pemujaanTantrik Buddhisme, melakukan ritual Tantrik persatuan dengan istrinya Ratu Bajradewiagar negerinya menjadi aman, dan keduanya menjelma dalam patung Ardhanareswara, menggabungkan kedua karakter istri laki-laki dan perempuan. Namun, praktek-praktek Tantrik Hindu menerima dorongan baru oleh penyebaran kultus Bhima Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya ketika Candi Sukuh dibangun selama abad XIV-XV Masehi, di Candi Sukuh, Tantrik Siwaisme berubah menjadi adat kultus Bima.

Transformasi terjadi ditahap terakhir dari masa Majapahit, tahun 1437 Masehi, ketika Bima digambarkan sebagai pendeta dari Dewa Siwa di bumi ini, ketika Siwa mengeluarkan tirta amerta, air suci keabadian. Ia menjadi agen pusat dari kultus kesuburan, sebuah gerakan yang kuat dari budaya populer saat itu, menampilkan banyak karakteristik yang didelegasikan kepadanya oleh Siwa. Sebuah fiturikonografi Bima terekspos seperti penis, kuku panchanaka, menandakan penetrasi. Candi Sukuh didirikan pada tahun 1437 Masehi dan ditahbiskan sebagai kuil Tantrik Siwaisme di tahun 1440 Masehi, menandai puncak perkembangan kultus Bhimadi Jawa dan filsafat hidup yang mendasarinya-osilasi antara kematian dan kelahiran kembali dalam siklus transformasi dan perubahan abadi. Seni Candi Sukuh, mengekspresikan konsep filosofis serta simbolisme kultus Bima dan Jawa secara menyeluruh.

Candi Sukuh didirikan oleh keturunan dari keluarga aristokratis tua Kediri, Bhre Daha tahun 1437M, yang menentang kebijakan Suhita, Ratu Majapahit, yang menyerah pada semakin kuatnya pengaruh kekaisaran Cina dan Islam. Terjadilah pemberontakan di tahun 1437 M, tapi serangan cukup singkat. (Fic, 2003: 66).

Candi Sukuh ditemukan kembali dalam keadaan runtuh pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta pada masa pemerintahan Raffles. Selanjutnya Candi Sukuh diteliti oleh Van der Vlis pada tahun 1842. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam buku Van der Vlis yang berjudul Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto. Penelitian terhadap candi tersebut kemudian dilanjutkan oleh Hoepermans pada tahun 1864-1867 dan dilaporkan dalam bukunya yang berjudul Hindoe Oudheiden van Java.Pada tahun 1889, Verbeek mengadakan inventarisasi terhadap candi Sukuh, yang dilanjutkan dengan penelitian oleh Knebel dan WF. Stutterheim pada tahun 1910.

4. Esensi Dalam Sebuah Intisari: Relief Cerita Candi Sukuh

Secara historis dalam pembabagan gaya arsitektur, relief yang terpahat di candi Sukuh dapat dikategorikan ke dalam relief gaya klasik muda yaitu yang berkembang dari abad ke-11 sampai dengan abad ke-15 Masehi. Setiap gaya relief memiliki ciri khas masing-masing dan ciri penggambaran relief bergaya klasik muda (Majapahit) adalah sebagai berikut :

  • Relief digambarkan dalam bentuk rendah (bas relief), pengerjaan relief hanya pada ¼ dari ketebalan media yang umumnya balok batu.
  • Penggambaran figur manusia, hewan, dan tumbuhan bersifat simbolis, artinya tidak seperti apa adanya (naturalis). Penggambaran figur kerap kali tidak proporsional, kaku, bahkan sangat mirip dengan wayang kulit.
  • Tokoh-tokoh sering digambarkan menghadap ke samping, sebagaimana layaknya wayang kulit, keadaan demikian lazim disebut dengan en-profile.
  • Adanya kecenderungan untuk mengisi seluruh panil dengan berbagai bentuk lain di luar tokoh- tokoh utama. Hal ini sering disebut horror vaquum pada gaya klasik muda.

Adapun mengenai isi atau tema ceritanya, memiliki ciri tersendiri pula, yaitu :

  • Cerita digambarkan fragmentaris, tidak lengkap dari awal hingga akhir kisah.
  • Tema umumnya roman percintaan, pelepasan dari derita, pertemuan dengan dewata, dan hanya sedikit yang bersifat epos.
  • Acuan cerita tidak semata-mata karya sastra dari India (Ramayana dan Mahabharata) melainkan ada juga sadurannya (misalnya Arjunawiwaha dan Sudhamala) bahkan juga cerita gubahan pujangga Jawa Kuna sendiri (Sri Tanjung, Panji, dan Bhubuksah- Ganggangaking) (Munandar, 2004: 55).

Secara garis besar relief – relief yang terpahat di candi Sukuh terbagi menjadi enam yaitu :

  • Fragmen Garudeya
  • Fragmen Sudhamala
  • Fragmen Bima Bungkus
  • Bhimaswarga
  • Nawaruci
  • Adegan pandai besi, cerita belum dikenal (Munandar, 2004: 56).

 5. Pembahasan

a. Fragmen Garudeya

Relief ini terletak di depan bangunan utama agak ke selatan, pada sudut kiri atas terdapat prasasti dalam huruf dan bahasa Kawi berbunyi padamel rikang buku tirta sunya =1361 Saka. Pemahatan relief ini bersumber dari Kitab Mahabharata bagian pertama (Adiparwa).

Dikisahkan, pada suatu hari Sang Winata dan Sang Kadru, istri Bagawan Kasyapa, mendengar kabar tentang keberadaan seekor kuda bernama Uccaihsrawa, hasil pemutaran Gunung Mandara atau Mandaragiri. Sang Winata mengatakan bahwa warna kuda tersebut putih semua, sedangkan Sang Kadru mengatakan bahwa tubuh kuda tersebut berwarna putih sedangkan ekornya saja yang hitam. Karena berbeda pendapat, mereka berdua bertaruh, siapa yang tebakannya salah akan menjadi budak. Mereka berencana untuk menyaksikan warna kuda itu besok sekaligus menentukan siapa yang salah.

Sang Kadru menceritakan masalah taruhan tersebut kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mengatakan bahwa ibunya sudah tentu akan kalah, karena warna kuda tersebut putih belaka. Sang Kadru pun cemas karena merasa kalah taruhan, maka dari itu ia mengutus anak-anaknya untuk memercikkan bisa ke ekor kuda tersebut supaya warnanya menjadi hitam. Anak-anaknya menolak untuk melaksanakannya karena merasa perbuatan tersebut tidak pantas. Sang Kadru yang marah mengutuk anak-anaknya supaya mati ditelan api pada saat upacara pengorbanan ular yang diselenggarakan Raja Janamejaya. Mau tak mau, akhirnya anak-anaknya melaksanakan perintah ibunya. Mereka pun memercikkan bisa ular ke ekor kuda Uccaihsrawa sehingga warnanya yang putih kemudian menjadi hitam. Akhirnya Sang Kadru memenangkan taruhan sehingga Sang Winata harus menjadi budaknya.

Sementara itu, telur yang diasuh Sang Winata menetas lalu munculah burung gagah perkasa yang kemudian diberi nama Garuda. Sang Garuda mencari-cari kemana ibunya. Pada akhirnya ia mendapati ibunya diperbudak Sang Kadru untuk mengasuh para naga. Sang Garuda membantu ibunya mengasuh para naga, namun para naga sangat lincah berlari kesana-kemari. Sang Garuda kepayahan, lalu menanyakan para naga, apa yang bisa dilakukan untuk menebus perbudakan atau meruwat ibunya. Para naga menjawab, kalau Sang Garuda mampu membawa tirta amerta ke hadapan para naga, maka ibunya akan dibebaskan atau diruwat. Sang Garuda menyanggupi permohonan tersebut.

Singkat cerita, Sang Garuda berhasil menghadapi berbagai rintangan dan sampai di tempat tirta amerta. Pada saat Sang Garuda ingin mengambil tirta tersebut, Dewa Wisnu datang dan bersabda, “Sang Garuda, jika engkau ingin mendapatkan tirta tersebut, mintalah kepadaku, nanti pasti aku berikan”. Sang Garuda menjawab, “Tidak selayaknya jika saya meminta kepada anda sebab anda lebih sakti dari pada saya. Karena tirta amerta anda tidak mengenal tua dan mati, sedangkan saya tidak. Untuk itu, berikanlah kepada saya anugerah yang lain”. Dewa Wisnu berkata, “Jika demikian, aku memintamu untuk menjadi kendaraanku, sekaligus menjadi lambang panji-panjiku”. Sang Garuda setuju dengan permohonan tersebut sehingga akhirnya menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Kemudian Sang Garuda terbang membawa tirta, namun Dewa Indra tidak setuju kalau tirta tersebut diberikan kepada para naga. Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut akan diberikan kalau para naga sudah selesai mandi.

Sampailah Sang Garuda ke tempat tinggal para naga. Para naga girang ingin segera meminum tirta amertha namun Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut boleh diminum jika para naga mandi terlebih dahulu. Para naga pun mandi sesuai dengan syarat yang diberikan, tetapi setelah selesai mandi, tirta amerta sudah tidak ada lagi karena dibawa kabur oleh Dewa Indra. Para naga kecewa dan hanya mendapati beberapa percikan tirta amerta tertinggal pada daun ilalang. Para naga pun menjilati daun tersebut sehingga lidahnya tersayat dan terbelah. Daun ilalang pun menjadi suci karena mendapat tirta amerta. Sementara itu Sang Garuda terbang ke surga karena merasa sudah menebus perbudakan ibunya. Relief kisah Garudheya ini juga terdapat di Candi Kidal di Jawa Timur yang dibangun atas perintah Anusapati untuk meruwat ibunya, Ken Dedes.

b. Fragmen Sudhamala

Relief ini terletak di bagian selatan pelataran teras ketiga dan bersumber dari Kidung Sudhamala. Cerita Sudamala mengisahkan tentang Sadhewa, salah satu dari satria kembar di antara kelima satria Pandawa, yang berhasil meruwat (menghilangkan kutukan) dalam diri Dewi Uma, istri Bathara Guru. Dewi Uma dikutuk oleh suaminya karena tidak dapat menahan kemarahannya terhadap suaminya yang minta untuk dilayani pada saat yang menurutnya kurang layak. Karena menunjukkan kemarahan yang meluap-luap, Sang Dewi dikutuk dan berubah wujud menjadi seorang raksasa bernama Bathari Durga. Bathari Durga yang menyamar sebagai Dewi Kunthi, ibu para Pandawa, mendatangi Sadewa dan meminta satria itu untuk meruwat dirinya. Kisah tersebut dituangkan dalam lima panel relief.

Relief pertama menggambarkan Dewi Kunti palsu yang merupakan penyamaran Bathari Durga yang mendatangi Sadewa dan meminta satria itu ‘meruwat’ (menghilangkan kutukan) dirinya. Relief kedua menggambarkan ketika Bima, kakak Sadewa, berperang dengan seorang raksasa. Tangan kiri Bima mengangkat tubuh raksasa, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku Pancanaka (senjata pusaka Bima) ke perut lawannya.

Relief ketiga menggambarkan Sadewa, yang menolak untuk ‘meruwat’ Bathari Durga, diikatkan ke sebuah pohon. Di hadapannya berdiri Bathari Durga yang mengancamnya dengan menggunakan sebilah pedang. Relief keempat menggambarkan pernikahan Sadewa dengan Dewi Pradhapa yang dianugerahkan kepadanya karena berhasil ‘meruwat’ Bathari Durga. Relief kelima menggambarkan Sadewa beserta pengiringnya menghadap Dewi Uma yang telah berhasil diruwat.

Murwakala sesungguhnya mengisahkan tentang asal-usul kehidupan atau purwaning dumadi. Sebuah ajaran spiritualisme yang disampaikan lewat simbol dan pasemon, yang mendorong kita untuk melakukan kajian falsafi tentang kehidupan di dunia yang penuh tantangan ini. Tetapi, ajaran moral yang diproyeksikan dalam adegan akhir lakon “Murwakala”, justru sebenarnya yang menjadi inti ajaran spiritual yang perlu dimaknai secara cermat. Ia adalah sebuah terapi psikologis agar manusia mampu menguasai “Sang Kala” (kendala dan kerawanan) untuk meniti masa depannya.

c. Fragmen Bima Bungkus

Dewi Kunti melahirkan bayi Bima di hutan Mandalasana di atas batu kumalasana yaitu sebuah batu kali atau batu sungai yang besar. Anehnya bayi Bima terlahir masih terbungkus kulit ari yang luar biasa kuat, liat dan tak bisa sobek. Itu membuat ayahnya, yaitu Pandu dan seluruh keluarganya resah dan bingung. Segenap alat dan senjata tak mampu menyobek atau memecahkan kulit ari yang membungkus bayi Bima.

Abiyasa kakek Bima sudah mengetahui bahwa proses kelahiran Bima yang terbungkus itu sebetulnya merupakan proses penggemblengan dari para dewa agar Bima nantinya akan menjadi ksatria sejati penegak dharma. Abiyasa meminta Dewi Kunti dan seluruh dayangnya meninggalkan hutan itu dan membiyarkan bayi Bima sendirian di atas Batu.

Di Balai Marcukundha-kahyangan para dewa sedang membicarakan kelahiran Bima. Bethara Guru dan permaisurinya Bethari Uma dihadap Bethara Narada, Bethara Bayu, Gajahsena, dan dewa lainnya. Bethara Guru memutuskan mengutus Bethari Uma, Bethara Narada, Bethara Bayu, dan Gajahsena supaya turun ke hutan Mandalasana dan membuka kulit ari yang membungkus bayi Bima.

Rombongan para dewa itu sampailah di hutan Mandalasana, mereka menemukan bayi Bima yang masih terbungkus kulit ari tergeletak di atas batu besar tanpa ada yang menunggu. Bethari Uma segera melaksanakan perintah Bethara Guru, ia menembus masuk ke dalam kulit ari bayi Bima tersebut secara gaib dan memasang pakaian “Busana Bang Bintulu” kepada si bayi.

Setelah itu Bethara Narada memerintahkan Gajahsena merobek bungkus bayi itu dengan gadingnya. Gajah putih menusukkan gadingnya, dengan sekali tusuk, kulit pembungkus bayi itu robek. Keluarlah bayi dari pembungkusnya dan sudah berpakaian poleng. Terkena udara bebas, Bima mendadak tumbuh besar menjadi seorang pemuda. Tanpa diduga si bayi menendang dengan keras gajah putih yang berdiri di hadapannya. Gajahsena terpental terkena tendangan Bima, gajah itu berubah menjadi asap dan masuk ke dalam tubuh Bima, menyatu menjadi kesaktian Bima (Kertonegoro, 2010: 85-86).

d. Fragmen Nawaruci / Bima Suci

Relief Nawaruci / Bima Suci atau yang terpahat di candi sukuh merupakan sebuah cerita yang bersumber dari Kitab Nawaruci atau disebut juga Kitab Sang Hyang Tattwajnana karya Empu Siwamurti, ditulis antara tahun 1500-1619 Masehi menggunakan bahasa Jawa Tengahan yaitu bahasa yang muncul saat kejayaan Majapahit.

Fragmen ini mengisahkan Bima mencari tirta pawitra sari (air suci) atas petunjuk Durna. Air suci itu berarti bahwa Bima ingin menyatu kembali kepada asalnya (Moksa). Air suci dapat ditemukan tidak di jagad gedhe namun ada di dalam diri Bima sendiri, yang digambarkan dengan wujud Bima Kathik yang disebut Dewaruci (Soetarno, 1995: 82). Pada saat Bima berada di gua garbha Dewaruci ia melihat samudra agung tanpa batas (samudra minang kalbu), ia tidak mengetahui arah dan menemukan kekosongan (awang uwung). Kekosongan tersebut sebagai lambang kedewataan yang disadari Bima bahwa pada hakikatnya ia berasal dari Tuhan.

Ketika itu Bima merasa kecil bila berhadapan dengan Dewaruci. Hal ini memberikan pemahaman bahwa manusia sangat kecil sekali, baik kekuasannya, kepandaiannya, kebijaksanaannya, keberadaannya bila berhadapan dengan Tuhan, sebagai konsekuensinya manusia harus secara sadar berhubungan, manembah, pasrah sumarah kepada Sang Hyang Wenang dengan jalan manusia harus berbuat sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

Pada waktu Bima berada di gua garbha Dewaruci ia menyaksikan berbagai peristiwa seperti: (1) Pada raga manusia terdapat panca indra yang mampu menanggapi ciptaan-Nya. Tanggapan akan ciptan- Nya tersimpan rapi di dalam hati sanubari manusia, yang menjadi wadah semua tanggapan itu dalam bentuk bayangan beraneka warna atau Pancamaya. Pancamaya itulah isi hati sanubari jiwa manusia sebagai pola-pola pengalaman kehidupan manusia (sastra cetha tanpa tulis), menuntun raga manusia menuju kemuliaan sejati. (2) Catur Warna sebagai pencerminan pangkal batin manusia dan mewarnai perangai manusia, yaitu terdiri dari: (a) warna hitam lambang kegelapan, kebodohan, dan kegusaran; (b) warna merah melambangkan tindakan yang didasarkan atas hawa nafsu dan tidak bijaksana; (c) warna kuning melambangkan tindakan manusia menuju ke perusakan dan merintangi keselamatan; (d) warna putih melambangkan kesucian dan kebahagian sejati (Soetarno, 1995: 84).

Hasta Warna sebagai antithesis dari wujud Catur Warna yang pada hakikatnya merupakan pencerminan delapan sifat yang terdapat dalam alam semesta (Astadikpalaka) yang dapat ditanggapi oleh panca indra dan menjelma sebagai Pancamaya yang tersimpan dalam hati sanubari manusia. Dengan demikian antara jagad gedhe (Astadikpalaka) dan jagad cilik (Pancamaya) yang tersimpan dalam hati sanubari manusia tidak ada bedanya dengan Hastawarna (Astabrata) artinya delapan laku utama yang terdiri atas: (a) laku hambeging Kisma: seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih dengan siapa saja. Kisma artinya tanah. Tanah tidak mempedulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani. Tanah selalu memperlihatkan jasanya. Walaupun dicangkul, diinjak, dipupuk, dibajak tetapi malah memberi subur dan menumbuhkan tanaman. Filsafat tanah adalah air tuba dibalas air susu. Keburukan dibalas kebaikan dan keluhuran; (b) laku Hambeging Tirta: seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaannya. Keadilan yang ditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air tidak pernah emban oyot emban cindhe ‘pilih kasih’; (c) laku Hambeging Dahana: seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Namun pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bias dipertanggungjawabkan sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi; (d) laku Hambeging Samirana: seorang pemimpin harus berjiwa teliti di manasaja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja. Bawahan cenderung selektif dalam memberi informasi untuk berusaha menyenangkan pimpinan; (e) laku Hambeging Samodra: seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Jiwa samudra mencerminkan pendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat yang berkharakter majemuk; (f) laku Hambeging Surya: seorang pemimpin harus memberi inspirasi pada bawahannya ibarat matahari yang selalu menyinari bumi dan memberi energi pada setiap makhluk; (g) laku Hambeging Candra: seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan bersinar terang benderang namun tidak panas, bahkan seperti terang bulan tampak indah sekali. Orang desa menyebutnya purnama sidi; (h) laku Hambeging Kartika: Maknanya seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan. Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun ia sangat kecil tapi dengan optimis memancarkan cahayanya, sebagai sumbangan buat kehidupan (Purwadi, 2007: 126-127).

Pada raga manusia Hastawarna (Hastabrata) merupakan persatuan dan kesatuan yang tak terpisahkan, ibarat jantung dengan denyutannya yaitu yang disebut Pramana. Hastabrata (Hastawarna) menggambarkan sebagian sifat Ketuhanan merupakan kesatuan kehalusan manusia yang disebut sukma yang menghidupi jiwa dengan perantara pramana. Bila manusia menemui ajalnya (lampus), pramana kan hilang dari raga. Jadi yang mati adalah raga, namun sukma dan jiwa saling mengemban tetap hidup.

Jadi melalui fragmen Bima Suci/Dewaruci/Nawaruci yang ada di Candi Sukuh kita dapat memahami bahwa keberadaan manusia di dunia tidaklah ada dengan sendirinya namun diciptakan Tuhan. Sifat Tuhan adalah transenden, sedangkan manusia sebagai mahluk adalah imanen. Manusia sekali waktu perlu ber – nawaruci yaitu nutupi babahan hawa sanga (= nawa) = menutupi sembilan lubang yang ada dalam diri manusia agar menjadi suci dan “mati sajroning urip, urip sajroning mati” atau dengan kata lain melaksanakan Brata (mengekang hawa nafsu) agar bisa bersatu (Moksa) dengan Tuhannya.

 6. Gambaran Arsitektur Candi Sukuh

  • Gambar: Bangunan utama Candi Sukuh bentuk trapesium berdenah dasar 15 m2 dan tinggi 6 m.
  • Gambar: di atas ambang pintu gapura, menghadap pelataran teras pertama terdapat hiasan Kala
  • Gambar: di halaman depan, tepatnya di luar gapura terdapat sekumpulan batu
  • Gambar: Relief yang menggambarkan seorang yang sedang berlari sambil menggigit ekor ular yang sedang melingkar (gapura buta anahut buntut = 1359 Saka / 1437 Masehi) di dinding sayap utara gapura.
  • Gambar: Pahatan lelaki dalam posisi jongkok sambil memegang senjata di dinding sayap utara dan selatan.
  • Gambar: Gerbang gapura bentar mengapit tangga menuju ke pelataran teras ke dua di sisi utara timur atau bagian belakang teras kedua. Tidak ada pahatan pada dinding.
  • Gambar: Manusia bersayap dan berkepala garuda dalam posisi berdiri dengan sayap membentang di bagian depan pelataran sisi utara teras ke tiga.
  • Gambar: Arca kura – kura besar yang melambangkan Bhur Loka atau alam bawah yaitu dasar gunung Mahameru.
  • Gambar: Panel batu dihiasi pahatan gambar gajah dan sapi di sisi utara.
  • Gambar: Kegiatan perbengkelan dengan bentuk tipikal dari industri pengadaan senjata dan perlengkapan sehari – hari yang terbuat dari logam
  • (Rahardjo, 2011: 288).
  • Gambar: MenurutEtty Saringendyanti ini adalah relief seorang lakilaki, namun dalam tulisan ini menyatakan bahwa ini adalah  relief Dewa Siwa. Dilihat dari tangannya memegang dua trisula (kanan & kiri).
  • Gambar: Arca Dwarapala
  • Gambar: Arcapenjaga versi wayang kulit (Balaupata dan Cingkarabala).
  • Gambar: Relief phalus dan vagina paada lantai gapura.
  • Gambar: Arca Laki – laki
  • Gambar: Salah satu inskripsi Candi Sukuh.
  • Gambar: Salah satu adegan cerita Garudeya.

Relief Sudhamala

  • Gambar: Dewi Kunti palsu yang merupakan penyamaran Bathari Durga yang mendatangi Sadewa dan meminta satria itu  ‘meruwat’ (menghilangkan kutukan) dirinya.
  • Gambar: Bima berperang dengan seorang raksasa. Tangan kiri Bima mengangkat tubuh raksasa dan tangan kanannya menancapkan Kuku Pancanaka ke perut raksasa.
  • Gambar: Sadewa yang menolak meruwat Bethari Durga, diikat di sebuah pohon. Di hadapannya berdiri Bethari Durga yang mengancam dengan sebilah pedang.
  • Gambar: Pernikahan Sadewa dengan Dewi Pradhapa yang dihadiahkan kepadanya karena berhasil meruwat Bethari Durga.
  • Gambar: Sadewa bersama pengiringnya menghadap Dewi Uma yang telah berhasil diruwat.

 7. Epistemologi Candi Sukuh

Memang apabila kita melihat wujud fisik dari candi Sukuh sangatlah aneh dan cenderung diragukan legitimasinya sebagai candi. Kebanyakan orang mengklaim bahwa candi yang terletak di kaki gunung Lawu ini adalah identik dengan candi porno. Pendapat ini terbangun atas dasar pengamatan mereka atas keberadaan atribut dari candi Sukuh itu sendiri yang memang vulgar.

Kefulgaran inilah yang cenderung menjadikan candi Sukuh diragukan sebagai candi oleh kebanyakan orang. Selain itu dilihat dari struktur bangunannya tidak seperti candi-candi pada umumnya yang menganut paham Triloka (Bhur, Bwah, Swah = kaki, tubuh, dan atap candi), sehingga Candi Sukuh bila dikatakan sebagai sebuah bagunan candi mungkin oleh sebagian besar orang akan menganggapnya sebagai gugon tuwon saja. Adapun atribut Candi Sukuh yang memiliki falsafis tersebut adalah sebagai berikut :

  • Pertama brahmana yang bernama Bima. Secara etimologis kata Sanskerta “brahmana” berasal dari urat kata ”brha” yang berarti “tumbuh, besar, luas, berkuasa, tinggi, jiwa tertinggi” dan kata “man” yang artinya “mencari pengetahuan”. Jadi brahmana adalah orang yang selalu mencari pengetahuan untuk mencapai jiwa tertinggi. Oleh karena itu pada zaman dahulu seseorang dikatakan sebagai brahmana apabila sudah mendapat ilmu kelepasan atau ngelmu panitisan.
  • Atribut yang kedua adalah Dewaruci. Kata ini berasal dari akar kata Sanskerta “div”  yang berarti sinar dan “ruci (ru + ci). Kata”ru” berasal dari kata “ruh” yang artinya jiwa dan kata “ci” berasal dari kata “suci” yang artinya bersih, tidak berdosa, keramat (Sudarmanto, 2009: 320). Artinya Dewaruci sesungguhnya merupakan perwujudan dari jiwa Bima sendiri yang ingin mencapai kesempurnaan rohani.
  • Atribut yang ketiga adalah Nawaruci. Kata ini nerasal dari kata bahasa Jawa Kuno “nawa” dan “ruci”. Kata “nawa” artinya sembilan dan “ruci” artinya jiwa yang bersih. Artinya Nawaruci merupakan wujud dari sikap pengendalian diri dari seorang Bima demi untuk mencapai kesempurnaan dengan cara menutup sembilan lubang yang ada di dalam dirinya (nutupi babahan hawa sanga).
  • Atribut yang keempat adalah Sukuh. Kata ini berasal dari kata “su + kuh”. Kata “su” artinya baik dan kata “kuh” berasal dari kata “kukuh” berarti tidak mudah rusak, kuat (Sudarmanto, 2009: 163). Artinya niat yang baik dan kuat. Hal ini sebagai gambaran dari sosok Bima yang memiliki niat yang baik dan kuat untuk mencari pencerahan dan kesempurnaan. Selain itu juga sebagai gambaran dari Candi sukuh itu sendiri, bahwa sejak awal pendiriannya dimaksudkan sebagai tanda bahwa meski terseyok-seyok dan sudah diujung tanduk (kehancuran) namun Majapahit berusaha berdiri kuat agar tetap bisa mempertahankan legitimasinya sebagai kerajaan yang bercorak Hindu.
  • Atribut yang kelima adalah Durga yang merupakan istri (sakti) dari Dewa Siwa (Bathara Guru). Durga oleh masyarakat Jawa sering dipersepsikan sebagai orang jahat. Terbentuknya persepsi ini berawal dari perwajahan tokoh Durga yang jelek dan urat kata yang membentuk nama Durga itu sendiri yaitu “dur” yang dalam bahasa Jawa berarti ala atau jelek atau tidak baik. Nama Durga tersebut secara filosofis merupakan hasil.

 Jika dirangkaikan mulai awal hingga akhir Esensi Candi Sukuh melalui kelima atribut di atas melambangkan ontologi, epistemologi sekaligus aksiologi Jawa yang terait dengan pendirian yang kuat dan baik (sukuh) oleh seorang pencari ilmu pengetahuan (brahmana) yang memiliki jiwa atau niat yang bersih (dewaruci). Pencapaian ini diawali dengan mengendalikan diri atau nafsu agar jiwa menjadi suci dan tenang (nawaruci) sehingga ia dapat mencapai hasil akhir yang berupa penyatuan mistis/ manunggal dengan Gusti atau Tuhannya (durga).

8. Wasana Wakya

Candi Sukuh tidak bisa “dibaca” secara serampangan, keberadaan ragawinya harus kita pahami secara lebih mendalam seperti mengaduk lautan susu (Samudramantana) menggunakan mata hati kita, bukan menggunakan mata kita yang telanjang karena mata telanjang yang kita miliki sesungguhnya penuh dengan keterbatasan.

Candi Sukuh bukanlah candi persenggamaan dan penuh dengan ketelanjangan tetapi sesunggunya merupakan transformasi tattwa dan filsafat yang dimiliki oleh orang Jawa melalui peradabannya yang diperhitungkan menjadi tiga peradaban besar di dunia. Dirinya mengajak kita untuk hanepa slirani kayu gung susuhing angin (mengoreksi diri sendiri sebelum mengoreksi diri orang lain), sebagai cerminan bagi manusia, seberapa beranikah manusia sebagai titah berani menelanjangi dirinya sendiri (baca: kesalahan) di hadapanTuhannya dan selanjutnya mengakui kesalahan yang pernah diperbuatnya tersebut dengan hati yang damai, sejuk dan penuh dengan penyerahan.

“Biarkan candi-candi itu berbicara. Maka mereka tidak sekedar menjadi panji – panji yang membawa kita kepada mitos dan mistisme. Ada kebijaksanaan yang akan mereka bisikkan dari sana.”

Daftar Pustaka

  • Fic, Victor. M. 2003. The Tantra. New Delhi: Abhinav Publications.
  • Kertonegoro, Kanjeng Madi. 2010. Bungai Rampai Kisah Pewayangan Mahabharata. Bali: Daya Putih Fondation.
  • Munandar, Agus Aris. 2004. Karya Sastra Jawa Kuno yang Diabadikan Pada Relief CandiCandi Abad ke 1315 M. Makara, Sosial Humaniora, Vol. 8, No. 2 Agustus 2004: 54-60.
  • Purwadi. 2007. Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal. Yogyakarta: Panji Pustaka.
  • Purwadi, Eko Priyo Purnomo. 2009. Kamus SanskertaIndonesia (Online). http://alangalangkumitir.wordpress.com. Diakses  pada tanggal 3 Januari 2011
  • Saringendyanti, Etty. 2008. Candi Sukuh dan Ceto di Kawasan Gunung Lawu: Peranannya Pada Abad 1415 Masehi. Makalah Hasi Penelitian. Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
  • Sudarmanto. 2009. Kamus Lengkap Bahasa Jawa. Cetakan keenam. Semarang: Widya Karya.
  • Rahardjo, Supratikno. 2011. Peradaban Jawa (Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir). Jakarta: Komunitas Bambu.
  • Soetarno. 1995. Wayang Kulit Jawa. Surakarta: CV. Cendrawasih.
  • Anynomous. 2013. Candi Sukuh (Online). http://wikipedia.org. Diakses pada tanggal 18 Desember 2013

Om santi, santi, santi Om

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag